Tentang Pangandaran
Pangandaran dapat dicapai sangat mudah melalui jalan darat dari berbagai kota di Jawa dan sangat popular bagi turis, terutama turis domestik. Pangandaran sangat dikenal oleh pecinta pantai: pantainya luas, landai, dan sangat indah untuk menikmati horison Samudra Hindia, menikmati sensasi angin laut, atau mengagumi matahari terbit dan terbenam. Sementara turis pecinta alam dapat menikmati flora dan fauna tropis di Taman Wisata Alam Pananjung.
Sekitar 38.000 orang tinggal di Pangandaran dan desa sekitarnya (Pangandaran, Cikembulan, Wonoharjo, Pananjung, dan Babakan, 2007). Sebagian besar penduduk bekerja sebagai nelayan dan petani, tetapi banyak juga yang bekerja di bidang pariwisata. Berbagai metode penangkapan ikan, pengolahan ikan, dan juga perayaan masih dilakukan warga di desa nelayan. Sementara kehidupan sehari-hari pertanian, industri rumahan, dan kesenian lokal juga dapat ditemukan di desa-desa sekitar Pangandaran. Masyarakat Pangandaran sebagian besar terdiri dari masyarakat Sunda dan Jawa; dan gabungan dari kedua budaya ini menambah kekayaan pengalaman berwisata di Pangandaran.
Kawasan konservasi Pangandaran terutama terletak di semenanjung Pangandaran; yang secara status perlindungan terdiri dari Cagar Alam, Cagar Alam Laut, dan Taman Wisata Alam.

Terumbu karang di Pangandaran adalah jenis karang tepi yang didominasi oleh Acropora di Pantai Barat dan Monticora di Pantai Timur.
Daerah hutan di Pangandaran diwarnai oleh hutan pantai, hutan dataran rendah, dan juga hutan perkebunan.

Ada sekitar 50-60 jenis burung yang masih atau pernah terlihat, termasuk 2 jenis Rangkong yaitu kangkareng (Anthracoceros coronatus) dan julang (Aceros undulatus).

Mamalia yang paling mudah ditemukan di dalam kawasan Taman Wisata Alam adalah monyet, rusa, lutung (Trachypithecus auratus), tando (Cynocephalus variegata), dan kalong (Pteropus vampyrus).